Selasa, 13 Mei 2014

Tinjauan Pustaka: Varises

PENDAHULUAN

Varises adalah penyakit yang dikenal sejak manusia hidup dalam posisi berdiri. Pernah diutarakan bahwa terdapat varises pada salah satu Mumi-Mesir dari tahun 1580 sebelum Masehi. Diperkirakan bahwa sekitar 50% dari penduduk dewasa orang Eropa menderita penyakit ini. Angka ini mungkin Iebih rendah pada penduduk Asia; namun angka statistik yang pasti khususnya untuk Indonesia belum Ada.1,2
Varises (varus = bengkok) adalah pelebaran pembuluh balik (vena) yang berkelok-kelok dan ditandai oleh katup didalamnya yang tidak berfungsi lagi. Bila hanya melebar saja disebut venektasi. Terdapat 3 jenis vena pada tungkai, yaitu vena tepi, vena dalam dan vena penghubung (perforantes). Vena tepi terletak di bawah kulit dan hanya dilindungi oleh jaringan longgar dan kulit, sedang vena dalam diliputi otot dan fascia serta berdampingan dengan arter-inya. Vena tepi yang utama adalah vena safena magna (VSM) dan vena safena parva (VSP). Kedua vena ini berhubungan di beberapa tempat melalui vena-vena kecil. lstilah safena berasal dari bahasa Yunani safes, artinya mudah terlihat atau jelas, sesuai dengan keadaannya di tubuh. VSM merupakan vena terpanjang di tubuh, mulai dari kaki sampai ke fossa ovalis dan mengalirkan darah dari bagian medial kaki serta kulit sisi medial tungkai. Vena ini merupa-kan vena yang paling sering menderita varises.3
Dari dulu sampai sekarang para ahli tiada henti-hentinya mencoba menangani varises dan komplikasinya. Perdarahan spontan jarang terjadi, biasanya ada trauma ringan, dan ini akan menyebabkan pasien segera datang berobat. Kemajuan yang besar telah dicapai mengenai terapi, dan pengetahuan yang mendasar dihimpun mengenai anatomi, etiologi, patologi dan patofisiologi, namun masalah yang dihadapi masih jauh dari selesai. terapi operatif dan non-operatif telah dicoba; kira-kira 50 tahun yang lalu terapi sklerosik dianggap satu-satunya pengobatan, untuk kemudian ditinggalkan dan kembali kepada tindakan bedah yang dipercaya sebagai cara untuk membuang varises, tambah ekstensif tambah baik. Sementara itu beberapa ahli mulai sangsi terhadap hasil operasi yang ekstensif yang kadang juga merusak sistem vena dalam. Karena itu mereka ini mulai lagi dengan terapi sklerotik dan bahan injeksi yang Iebih dapat diandalkan. Sampai sekarang para ahli yang menyokong kedua cara ini sama-sama yakin akan hasilnya masing-masing. Varises dan komplikasinya jarang sekali menyebabkan kematian, betapapun besar dan banyaknya keluhan yang diderita pasien. Karena itu kesalahan yang berakibat fatal harus dicegah, terapi manapun yang diterapkan.1,2

Semoga bermanfaat.
Jika butuh fulltextnya comment aja. InsyaAllah saya kirim via email/gdrive.

Tinjauan Pustaka: Tumbuh Kembang pada Sindrom Down

PENDAHULUAN

Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan mempunyai dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi orgam/individu. Walaupun demikian, kedua peristiwa itu terjadi secara sinkron pada setiap individu.1
Untuk tercapainya tumbuh kembang yang optimal tergantung pada potensi biologiknya. Tingkat tercapainya potensi biologik seseorang, merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor genetik, lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial dan perilaku. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda yang memberikan ciri tersendiri pada setiap anak. Begitu pula pada anak yang menderita sindrom down.1 
Sindrom Down disebabkan kelainan pada kromosom. Bayi normal dilahirkan dengan jumlah 46 kromosom (23 pasang) yaitu hanya sepasang kromosom 21 (2 kromosom 21). Semua individu dengan sindrom Down memiliki 3 salinan kromosom 21. sekitar 95% memiliki salinan kromosom 21 saja. Sekitar 1% individu bersifat mosaik dengan beberapa sel normal. Sekitar 4% penderita sindrom Down mengalami translokasi pada kromosom 2.2
Pada makalah tinjauan pustaka ini akan disampaikan tentang tumbuh kembang pada anak dengan sindrom down. 

Semoga bermanfaat.
Jika butuh fulltextnya comment aja. InsyaAllah saya kirim via email/gdrive.

Tinjauan Pustaka: Thalassemia dan Kehamilan

PENDAHULUAN

Thalassemia berasal dari kata Yunani, yaitu talassa yang berarti laut. Yang dimaksud dengan laut tersebut ialah Laut Tengah, oleh karena penyakit ini pertama kali dikenal di daerah sekitar Laut Tengah. Penyakit ini pertama sekali ditemukan oleh seorang dokter di Detroit USA yang bernama Thomas B.1
Thalassemia adalah penyakit genetik yang diturunkan secara autosomal resesif menurut hukum Mendel dari orang tua kepada anak-anaknya. Penyakit thalassemia meliputi suatu keadaan penyakit dari gelaja klinis yang paling ringan (bentuk heterozigot) yang disebut thalassemia minor atau thalassemia trait (carrier = pengemban sifat) hingga yang paling berat (bentuk homozigot) yang disebut thalassemia mayor. Bentuk heterozigot diturunkan oleh salah satu orang tuanya yang mengidap penyakit  thalassemia, sedangkan bentuk homozigot diturunkan oleh kedua orang tuanya yang mengidap penyakit thalassemia.2
Thalassemia ternyata tidak saja terdapat di sekitar Laut Tengah, tetapi juga di Asia Tenggara yang sering disebut sebagai sabuk thalassemia sebelum pertama sekali ditemui pada tahun 1925 .Di Indonesia banyak dijumpai kasus thalassemia, hal ini disebabkan oleh karena migrasi penduduk  dan percampuran penduduk.  Menurut hipotesis, migrasi penduduk tersebut diperkirakan berasal dari Cina Selatan yang dikelompokkan dalam dua periode.  Kelompok migrasi pertama diduga memasuki Indonesia sekitar 3.500 tahun yang lalu dan disebut Protomelayu (Melayu awal) dan migrasi kedua diduga 2.000 tahun yang lalu disebut Deutromelayu (Melayu akhir) dengan fenotip Monggoloid yang kuat. Keseluruhan populasi ini menjadi menjadi Hunian kepulauan Indonesia tersebar di Kalimantan, Sulawesi, pulau Jawa, Sumatera, Nias, Sumba dan Flores.1,3
Pada wanita dengan thalassemia dan rutin mendapatkan tranfusi akan menurunkan kesuburan, walaupun demikian kehamilan masih mungkin terjadi. Dengan penanganan dan konseling yang tepat akan meningkatkan kulitas hidup dan kesukseskan dalam kehamilan. Hal inilah yang menarik minat penulis untuk mengupas lebih lanjut mengenai kehamilan dan thalassemia.4

Semoga bermanfaat.
Jika butuh fulltextnya comment aja. InsyaAllah saya kirim via email/gdrive.

Tinjauan Pustaka: Sindrom Metabolik dan Kehamilan

PENDAHULUAN

Sindroma metabolik atau sindrom X adalah sekelompok kelainan metabolik baik lipid maupun non-lipid yang yang mempunyai karakteristik khusus yaitu obesitas sentral, dislipidemia aterogenik (kadar trigliserida meningkat dan kadar kolesterol high-density lipoprotein (HDL) rendah), hipertensi, dan glukosa plasma yang abnormal1,2,3
Keadaan tersebut di atas berhubungan erat dengan suatu kelainan sistemik yang dikenal sebagai resistensi insulin. Resistensi insulin adalah suatu gangguan respons biologis terhadap insulin, dengan akibat kebutuhan insulin tubuh meningkat sehingga terjadi hiperinsulinemia untuk mempertahankan kadar glukosa plasma agar tetap dalam batas normal. Resistensi insulin berkaitan erat dengan obesitas, khususnya dengan penimbunan jaringan lemak abdominal atau obesitas sentral. Beberapa keadaan resistensi insulin seperti sindroma ovari polikistik, terapi glukokortikoid, atau kehamilan tidak termasuk sindroma metabolik 4
Konsep tentang adanya sekelompok faktor risiko PJK sudah pernah dikemukakan sebelumnya oleh Kylin pada tahun 1933 dengan nama sindroma X terdiri atas obesitas, hiperurisemia, dan hipertensi. Kemudian Reaven pada tahun 1988 memperkenalkan kembali sindroma X dengan jenis faktor risiko yang berbeda yaitu intoleransi glukosa, hiperinsulinemia, trigliserida yang tinggi, HDL-kolesterol rendah dan hipertensi. Selanjutnya semakin banyak faktor risiko penyakit jantung koroner yang diusulkan sebagai bagian dari sindroma X sehingga sindroma ini mendapat beberapa nama lain seperti sindroma resistensi insulin, the deadly quartet, atau sindroma dismetabolik. 4
Ketika seorang wanita dengan metabolik sindrom hamil, kehamilan itu sendiri akan memberikan gejala yang mirip dengan metabolik sindrom yaitu menurunnya sensitivitas terhadap insulin, meningkatnya kadar gula darah, peningkatan kadar trigliserida dan peningkatan tekanan darah. Tentu saja hal ini akan memperparah metabolik sindrom yang sudah diderita dan nantinya dapat mempengaruhi terhadap ibu dan janin.5

Semoga bermanfaat.
Jika butuh fulltextnya comment aja. InsyaAllah saya kirim via email/gdrive.

Tinjauan Pustaka: Rhinitis Medikamentosa

PENDAHULUAN

Rhinitis medikamentosa adalah suatu kelainan hidung yang berupa gangguan respons normal vasomotor. Kelainan ini merupakan akibat dari pemakaian vasokontriktor topikal (obat tetes hidung atau obat semprot hidung) dalam waktu lama dan berlebihan, sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang menetap. Istilah rhinitis mendikamentosa ini pertama kali dikenalkan oleh Lake pada tahun 1946.1,2
Rhinitis medikamentosa dikenal juga dengan rebound atau rhinitis kimia karena menggambarkan kongesti mukosa hidung yang diakibatkan penggunaan vasokontriksi topikal yang berlebihan. Obat-obatan lain yang bisa mempengaruhi keseimbangan vasomotor adalah antagonis ß-adrenoreseptor oral,  inhibitor fosfodiester, kontrasepsi pil, dan antihipertensi. Tetapi mekanisme terjadinya kongesti antara vasokontriktor  hidung dengan obat-obat di atas berbeda sehingga istilah rhinitis medikamentosa hanya untuk rhinitis yang disebabkan oleh penggunaan vasokontiktor topikal sedangkan yang disebabkan oleh obat-obat oral dinamakan rhinitis yang dicetuskan oleh obat (drug induced rhinitis).1
Mukosa hidung merupakan organ yang sangat peka terhadap rangsangan sehingga dalam penggunaan vasokontriktor topikal harus berhati-hati. Vasokontriktor hidung diisolasi pertama kali pada tahun 1887 dari ma-huang yaitu tanaman yang mengandung ephedrine dan digunakan sebagai  vasokontriktor topikal pada mukosa hidung dalam bentuk inhalasi, minyak, semprot dan tetes.1 Vasokontriktor topikal yang digunakan sebaiknya yang isotonik dengan sekret yang normal, pH antara 6,3 sampai 6,5 serta pemakaiannya tidak lebih dari satu minggu sehingga rhinitis medikamentosa dapat dicegah. 
Rhinitis medikamentosa merupakan salah satu kelainan hidung non alergi yang dapat mengganggu dan membuat penderita datang berobat ke dokter. Oleh karena itu pada makalah ini akan dibahas tentang patofisiologi, gejala, pemeriksaan dan penatalaksanaan dari rhinitis medikamentosa.

Semoga bermanfaat.
Jika butuh fulltextnya comment aja. InsyaAllah saya kirim via email/gdrive.

Tinjauan Pustaka: Perdarahan Uterus Abnormal

PENDAHULUAN

Perdarahan uterus abnormal merupakan suatu masalah kesehatan yang sering dijumpai, dimana penangan dan penatalaksanaanya bisa sangat rumit. Secara umum, penyebab perdarahan uetrus abnormal adalah kelainan organik (tumor, infeksi), sistemik (seperti kelainan faktor pembekuan), dan fungsi alat reproduksi1.
Perdarahan Uterus Abnormal (PUA) menjadi perhatian klinisi karena dampak yang ditimbulkannya jika tidak ditangani dengan tepat. Angka kejadian PUA diprediksi terjadi pada 20% wanita. khususnya pada pasca menopause PUA merupakan  15%- 20% dari seluruh kasus ginekologi, serta 25% indikasi operasi ginekologi. Beberapa penelitian mendapatkan hanya 10-20% dari keseluruhan kasus PUA tersebut yang menderita kanker.2
PUA dapat terjadi pada semua usia dan sebagian besar  kasus yang dirujuk ke bagian Ginekologi adalah dengan  diagnosis klinis (sebenarnya gejala klinis) metrorhagia (37,1%)  dan menorhagia (33,7%).2
Agar kasus-kasus PUA dapat ditangani dengan tepat, harus diketahui etiologi/penyebab pasti yang dapat berupa kelainan organik dan perdarahan uterus disfungsional. Kelainan organik yang paling sering adalah mioma uterus terutama mioma submukosum, endometriosis, polip, kanker endo-metrium, hiperplasia endometrium dan adneksitis. Selain itu juga pemakaian alat kontrasepsi, trombositopenia dan gangguan pembekuan darah serta penggunaan terapi sulih hormon. Modalitas yang sering digunakan untuk diagnosis etiologi perdarahan uterus adalah histeroskopi, kuretase yang dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologis (PA), biopsi, serta USG transvaginal dan MRI. Histeroskopi merupakan baku emas untuk mengetahui keadaan di dalam kavum uteri namun memerlukan prosedur anestesi, invasif dan mahal.2,3 
Di beberapa pusat termasuk di RS Sanglah, pemeriksaan histopatologis merupakan baku emas untuk diagnosis patologis kavitas uteri. Sampel untuk pemeriksaan PA dapat diambil melalui kuretasi atau biopsi. Di samping untuk diagnostik, kuretasi berfungsi juga sebagai terapi perdarahan uterus. Jika dibandingkan dengan hasil PA setelah histerektomi, akurasi D&C PA mencapai 90%, sehingga D&C PA baik dipakai sebagai baku emas pemeriksaan lesi intrauteri.2,Banyaknya kasus yang terjadi dan penegakan etiologi yang harus tepat menarik perhatian penulis untuk menjabarkan lebih dalam mengenai perdarahan uterus abnormal.

Semoga bermanfaat.
Jika butuh fulltextnya comment aja. InsyaAllah saya kirim via email/gdrive.

Tinjauan Pustaka: Peningkatan Efektivitas Imunisasi BCG Sebagai Upaya Proteksi Tuberkulosis Di Wilayah Puskesmas

PENDAHULUAN

Penyakit Tuberkulosis sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan dunia, tidak hanya di Indonesia. Penyakit TB sekarang menjadi masalah yang serius bagi dunia karena pada kelompok masyarakat berumur lebih dari 5 tahun, TB merupakan penyebab kematian terbanyak dibanding karena AIDS, malaria, diare, lepra ataupun jumlah semua. penyakit tropis. Penyakit TB merupakan penyebab kematian terbesar di dunia yang hanya disebabkan oleh penyebab tunggal yaitu Mycobacterium niberkulasis (M. tuberkidosis). Diperkirakan sepertiga dari 5,7 miliar pcnduduk dunia terinfeksi oleh kuman TB, 95% dari jumlah tersebut terdapat di negara sedang berkembang dan 80% di antaranya benisia 15-59 tahun atau kelompok usia produktif Diperkirakan setiap tahunnya terjadi 9 juta kematian akibat penyakit TB, 98% dari kasus terbanyak terdapat di Asia Tenggara. Indonesia sendiri menduduki urutan ketiga setelah India dan Cina mempunyai kasus-kasus TBC(1).
Tuberkulosis masih merupakan masalah utama kesehatan di Indonesia, diperkirakan 583.000 kasus baru dan 140.000 terjadi kematian tiap tahunnya (1999) akibat penyakit TBC(1)
Penyakit TBC pada bayi dan anak dapat dicegah dengan beberapa cara seperti imunisasi BCG Bacillus Calmette-Guerin), pengobatan untuk pencegahan (kemoprofilaksis), menghindari kontak dengan penderita TBC, mendiagnosis dan mengobati kasus TBC dewasa secara tepat, serta dengan menerapkan strategi DOTS .
 Dengan cakupan imunisasi BCG menurut parameter Indonesia sehat 2010 yang mencapai 100% diharapkan jumlah kasus TBC akan menurun karena adanya kekebalan kelompok masyarakat (herd immunity). Keadaan ini mungkin dapat dicapai bila cakupan imunisasi merata sampai ke tingkat desa dan tidak ada lagi kantong-kantong TBC. (2)
Upaya imunisasi BCG yang telah dilaksanakan oleh Departemen kesehatan R.I. secara nasional sudah mencakup 96,3% (2001), tetapi di daerah-daerah terpencil cakupan tersebut secara keseluruhan belum tercapai Mengingat kondisi tersebut, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi BCG untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang sangat mematikan ini.
Dengan latar belakang tersebut muncul permasalahan yaitu bagaimana upaya untuk mencegah penyakit TBC berat dengan peningkatan cakupan imunisasi BCG pada balita.

Semoga bermanfaat.
Jika butuh fulltextnya comment aja. InsyaAllah saya kirim via email/gdrive.